Selasa, 02 Desember 2014

Korban Teknologi Informasi Komersial



Mendidik mencintai lingkungan
Kemutakhiran teknologi informasi  dapat menyuguhkan berbagai informasi. Informasi baik atau kurang baik mudah diakses. Informasi baik tentu saja tidak menimbulkan persoalan, sebaliknya, informasi kurang baik menimbulkan problema. Oleh karena itu, diperlukan sikap dapat memilah dan memilih mana informasi positif dan negatif.
Sayang sikap demikian hanya dimiliki oleh orang dewasa. Orang dewasa akan mudah menentukan informasi mana yang menguntungkan dan merugikan. Tidak demikian yang terjadi pada diri anak. Anak akan mengalami kesulitan dalam menentukan informasi mana yang bermanfaat dan tidak.
Anak akan menyerap semua informasi yang diperoleh. Mereka tidak akan menyeleksi satu per satu. Informasi apa pun akan diterimanya. Dan, sikap membuka diri terhadap semua informasi yang didapat inilah yang sangat membahayakan. Anak-anak dapat menjadi korban kemutakhiran teknologi informasi.
Padahal teknologi informasi yang secanggih apa pun, hampir-hampir mudah didapat. Anak-anak sejak usia SD, sekarang, sudah memiliki gadget tersambung internet. Coba tengok anak-anak di sekitar Anda. Anda akan terperangah melihat anak-anak sudah mahir mengoperasikan gadget itu. Mereka piawai mengakses berbagai situs.
Dalam hal ini boleh jadi orang tua memiliki peran penting. Hanya, sering orang tua kurang mau menyadari peran ini. Orang tua bisa saja tidak memfasilitasi anak dengan gadget yang berfitur canggih. Handphone tidak perlu yang berkamera, misalnya. Handphone yang dapat untuk berkomunikasi saja lebih dari cukup. Handphone yang demikian saja masih memungkinkan anak tercuri konsentrasi belajarnya.  Bukan mustahil mereka memanfaatkannya untuk short message service (SMS) iseng dengan teman. Akan tetapi, ini masih lebih baik daripada memberi handphone yang berfitur canggih.
Beberapa sekolah sebenarnya sudah ada yang membuat tata tertib melarang anak membawa handphone berkamera ke sekolah. Akan tetapi, kenyataannya masih banyak dijumpai anak yang membawanya. Sudah diadakan penyitaan, tetapi setelah disita dan diberi peringatan, toh handphone itu lain waktu dibawa lagi. Orang tua dipanggil untuk ikut menyelesaikan problem anaknya yang berhandphone kamera. Sementara waktu bisa diatasi. Akan tetapi, entah karena rengekan maut si anak, di lain waktu anak sudah membawa lagi. Barangkali orang tua, dalam hal ini,  memang harus berani bersikap lebih tegas lagi.
Warung internet (warnet) yang menjamur di masyarakat pun tidak memedulikan etika. Tidak sedikit warnet yang menyediakan layanan secara bebas bagi pemakai. Mereka, termasuk anak-anak,  dapat mengakses apa saja. Apalagi warnet di negeri ini dibuat berbilik-bilik. Kondisi yang memungkinkan pemakai leluasa berselancar karena privasinya terjaga. Warnet yang demikian banyak dikunjungi konsumen. Karena menguntungkan pengusaha, tak heran jika cara pengelolaan warnet yang demikian itu berjumlah banyak.    
 Belum lagi informasi yang disediakan oleh media lain, seperti televisi, radio, koran, dan sejenisnya. Waktu 24 jam sehari hampir tidak putus dari gelontoran informasi. Orang dimanjakan oleh media. Saat orang bekerja masih dapat bermain-main dengan gadget. Saat selesai bekerja dan berada di rumah, orang masih memelototi layar komputer atau televisi. Padahal, berita, film, iklan, dan tayangan yang lain yang bisa dilihat tidak selalu bernilai edukatif-rekreatif.
Parahnya, anak-anak hidup di seputaran kondisi itu.  Mereka yang belum memiliki prinsip tegas  dapat menjadi korban. Masa anak-anak yang seharusnya diisi dengan rangsangan-rangsangan potensi positif, justru tercekoki  rangsangan negatif.
Tidak sedikit tayangan kurang bermakna sengaja dimunculkan karena itu yang justru mendatangkan keuntungan. Nilai komersialnya tinggi. Dan, pembuat serta penyedia jasa tayangan tentu lebih senang bergerak di ranah komersial daripada ideal karena lebih menjamin keuntungan finansial. Coba kita hitung berapa persen televisi kita yang menayangkan program bermakna? Sekalipun menayangkan berita, tetapi berita yang ditayangkan lazimnya berita-berita kekerasan, peselingkuhan, kejahatan, dan sejenisnya. Hanya sedikit televisi yang menginformasikan nilai-nilai kebaikan.
Peran lembaga sensor film, iklan, dan lagu sangat dibutuhkan. Lembaga sensor lembaga yang independen. Maka, lembaga ini harus bekerja tanpa pengaruh apa pun, termasuk iming-iming dari pengusaha terkait. Lembaga ini memiliki peran penting membangun peradaban mulia. Kecerobohan lembaga ini berakibat fatal bagi peradaban, terutama peradaban generasi muda. 
Namun, di masyarakat masih banyak dijumpai tayangan yang menghancurkan peradaban. Sulit dibasmi. Dan, itulah kenyataannya, melingkar-lingkar. Karena masyarakat (pasar) rupanya sebagian banyak masih menyenangi  tayangan-tayangan horor, cabul, klenik, setan, pocong, glamour, dan sejenisnya. Para pengusaha film, iklan, lagu, dan pertunjukan, diakui atau tidak, akhirnya dengan sukacita memenuhi selera pasar sekalipun bertentangan dengan hukum yang berlaku. Boleh jadi undang-undang dan peraturan-peraturan yang dibuat pemerintah, bagi mereka, tak ada artinya.
""