| SATU-SATU: Menghitung sampah yang ditemukan di laci meja |
Waktu mengajar di salah satu
kelas, Selasa (7/5), saya sengaja memanfaatkan beberapa menit
untuk mengajak anak-anak mengeluarkan
“sesuatu”, yang mungkin tersimpan di laci meja mereka. Yang dikeluarkan dari
laci meja bukannya peralatan sekolah, tetapi berbagai bungkus makanan ringan
dan gelas plastik kemasan minuman, yang tidak lain adalah sampah.
Laci meja yang seharusnya untuk
menyimpan/menaruh peralatan sekolah, justru digunakan sebagai tempat sampah.
Jelas hal tersebut menandakan bahwa mereka makan dalam ruang kelas. Lantas, begitu
isinya habis, secara spontan mereka memasukkan bungkusnya ke laci meja. Karena,
tempat terdekat dan tersembunyi menurut
mereka barangkali laci meja itu. Praktis sebagai penyimpan sampah.
Anehnya, anak-anak tetap terlihat
enjoy saja memanfaatkan meja itu.
Tidak terlihat jijik. Terbukti, tangan mereka kadang masih memanfaatkan laci meja
itu, entah untuk apa selain membuang sampah. Karena beberapa kali tangan mereka
tidak terlihat di atas meja.
Sampah-sampah itu memang kering.
Tidak sampah basah. Sampah yang basah paling-paling gelas, bekas minuman kemasan. Itu pun umumnya sudah kering
atau tinggal sedikit-sedikit sisa cairannya, yang lama-lama pasti mengering karena
suhu panas dalam laci. Akan tetapi, laci itu bisa jadi sarang nyamuk. Mestinya
mereka terganggu makhluk satu ini, karena suka menghisap darah. Toh demikian,
anak-anak tetap terkesan tidak acuh.
| SEBUNGKUS: Sejumlah sampah setelah dimasukkan ke karung plastik |
Padahal, ketika sampah sudah
terkumpul di atas meja setelah dikeluarkan, jumlahnya tidak sedikit. Melihat
sampah teronggok di atas meja, anak-anak senyam-senyum. Apalagi ketika saya
minta menghitungnya. Senyam-senyumnya semakin menjadi. Dan, ternyata tiap-tiap
meja memiliki lima sampai sepuluh sampah. Ada sampah sobekan dan remasan kertas
dan plastik bungkus jajan, yang ukurannya kecil-besar. Yang paling banyak, sampah
plastik jajan.
