Senin, 25 April 2016

Membaca Langkah Kaki Anak Saat Berangkat ke Sekolah



Gambar diambil dari www.selangkahlagi.com
Melihat anak-anak sekolah yang bersemangat sangatlah senang. Semangat mereka sebetulnya dapat dilihat dari cara mereka berjalan ketika memasuki halaman sekolah. Sejak menginjakkan kaki di gerbang sekolah sudah dapat dicirikan, mana anak yang bersemangat dan tidak. Anak yang bersemangat terlihat melangkahkan kaki dengan mantap menuju ruang kelasnya. Tidak terlihat ada beban yang menghambatnya berjalan.
Semangat langkah kakinya itu terdorong dari dalam dirinya. Mereka (barangkali) berpikir bahwa bersekolah penting. Di sekolah mereka dapat belajar. Pengetahuan diperolehnya dari guru-guru dan teman-teman di sekolah. Sekolah sebagai tempat menuntut ilmu. Agar ilmu yang dimiliki dapat bertambah dan bertumbuh.

Semangat yang mereka miliki bisa (saja) karena kesadaran dirinya. Sadar bahwa mengenyam pendidikan itu kewajiban. Dengan pendidikan, harapan untuk dapat hidup layak dapat diperoleh. Tanpa didorong oleh orang lain pun, termasuk orang tua, pendidikan dijalaninya dengan baik. Ini yang terjadi pada anak-anak yang menyadari bahwa pendidikan itu kebutuhan utama dalam hidup.

Ada juga anak-anak yang baru tumbuh rasa semangat bersekolah ketika dinasihati orang lain, termasuk orang tua. Nasihat orang lain dimengerti dan dipahami karena bermakna bagi dirinya. Orang-orang yang menasihatinya diketahui telah memiliki banyak pengetahuan dan pengalaman. Dan karena itu, mereka tidak memiliki keberanian untuk menolak nasihat tersebut. Ia menerima nasihat dan bahkan melakukannya karena diyakini hal itu yang akan membawa hidupnya ke depan lebih baik. Nasihat untuk mau bersekolah dilakoninya dengan iklas dan suka cita.
Barangkali kita tidak dapat (lagi) membedakan mana anak yang semangat bersekolahnya tumbuh sendiri dan didorong orang lain. Sulit membedakan langkah-langkah kaki mereka ketika menapaki halaman sekolah. Anak yang memiliki semangat mandiri melangkah dengan mantap, demikian pula anak yang memiliki semangat bersekolah karena motivasi orang lain. Keduanya tidak memiliki perbedaan dalam (cara) melangkahkan kaki. Yang terlihat hanyalah langkah kakinya sama-sama mantap dan tegas.

Berbeda dengan anak-anak yang kurang semangat bersekolah. Anak-anak yang tergolong dalam kelompok ini langkah kakinya terlihat kurang mantap dan tegas. Memasuki gerbang sekolah terasa terbeban. Kakinya seperti ditarik (entah oleh makhluk apa) sehingga berat untuk melangkah. Sekalipun waktu jam pembelajaran hampir dimulai, yang berarti jam masuk sekolah sudah menjelang tiba, mereka tetap berjalan dengan santainya. Bahkan, walaupun ada guru yang mengetahui, mereka tetap bersikap biasa-biasa saja. Seolah-olah tidak ada apa-apa. Mereka cenderung tidak acuh.

Namun, jika ada guru yang menegur, umumnya mereka baru melangkah secara cepat. Hanya, boleh jadi sikap itu dilakukan agar guru tidak memarahinya dan bukan karena mereka merasa rugi ketinggalan pembelajaran. Karenanya, jika keberadaannya tidak terlihat lagi oleh guru, langkah-langkah kakinya kembali seperti sediakala: lunglai, seakan tidak berdaya.
Anak-anak yang memiliki “keistimewaan” seperti itu (dapat) disebabkan oleh paling tidak tiga faktor. Pertama, suasana sekolah dirasa kurang bersahabat. Guru dan karyawan sekolah dianggap kurang familier terhadap mereka. Karena, apa yang dilakukan (seakan-akan) selalu menempatkan dirinya pada posisi yang salah. Kedua, mereka merasa kemampuannya berada di bawah teman-temannya. Sehingga untuk menutupi kekurangan itu mereka bersikap agak “khusus” agar memeroleh perhatian dari berbagai pihak. Ketiga, motivasi bersekolah mereka rendah. Sekolah dipahami kurang memberi jaminan baik di masa depan. Pemahaman itu dampak dari pengalamannya melihat kenyataan bahwa ada banyak anak selesai sekolah, tapi nasibnya kurang beruntung. 
Untuk mengubah langkah mereka mantap dan tegas saat berangkat ke sekolah dibutuhkan sekurang-kurangnya kerja sama yang sungguh-sungguh antara keluarga dan sekolah membangun kesadaran mereka. Keluarga dan sekolah perlu memiliki kesabaran karena (mungkin) ada proses yang panjang dan tantangan yang berat.
""