Senin, 09 Maret 2015

Membentuk Sikap Belajar Sejak Dini


Gambar diambil adri beasiswa-smart4u.blogspot.com

Belajar merupakan aktivitas positif yang melekat kepada pelajar. Karena, tanggung jawab yang paling utama pelajar adalah belajar. Melalui belajar, para pelajar dapat menguasai ilmu pengetahuan yang seharusnya dikuasai. Bahkan, jika ada kelemahan-kelemahan dalam penguasan materi akan dapat segera  diketahui saat belajar untuk kemudian dicari jalan keluarnya. Pelajar dapat menanyakan kekurangannya itu kepada orangtua, teman, atau guru. Itu berarti lewat belajar, akhirnya mereka mengetahui materi mana yang sudah dikuasai dan yang belum. Dengan demikian, mereka dapat menentukan skala prioritas dalam belajar, bagian mana yang harus lebih ditekuni.
Akan tetapi sekalipun belajar demikian penting baginya, tidak sedikit pelajar yang malas melakukannya. Sebagian pelajar melakukannya hanya sambil lalu. Artinya, belajar hanya dilakukan saat-saat dibutuhkan karena ada ulangan, tes, ujian, dan sejenisnya. Jika tidak ada hal-hal seperti itu, belajar tidak dilakukan. Justru hari-harinya diisi dengan kegiatan-kegiatan bermain, melihat televisi, atau aktivitas lain yang tidak terkait dengan belajar.

Sekalipun sendirian, aktivitas semacam itu masih dapat berjalan dengan baik. Melihat televisi, misalnya, tidak ada teman tetap dapat dilakukan dengan tertib dan terjadwal. Demikian juga ketika bermain game, sendirian justru mengasyikkan. Aktivitas itu dapat berlangsung berjam-jam. Tidak demikian halnya dengan belajar. Belajar sendirian pada sebagian pelajar sangat menjenuhkan. Dalam waktu tidak lama, tidak sedikit pelajar yang akhirnya kalah dengan kantuk.

Ada memang pelajar yang ketika belajar sendirian dapat menikmatinya. Konsentrasi berpikirnya lebih terpusat. Dalam menguasai materi lebih cepat oleh karena suasana yang sesuai. Suasana yang dihadirkan lebih menghibur. Misalnya, belajar sambil ngemil, mendengarkan radio, tape, melihat televisi, dan sejenisnya.
Akan tetapi, ada juga pelajar yang hanya dapat terdorong belajar jika ada teman yang belajar. Maksudnya, teman yang sedang belajar dapat memengaruhinya untuk belajar. Pada usia kanak-kanak, belajar model begini mudah kita jumpai. Ketika kakak sedang belajar, tiba-tiba adik ikut belajar. Ketika ada  orang sebayanya belajar, ia turut belajar. Saat orangtua membaca Koran, si kecil tiba-tiba nimbrung membaca.

Hal itu menunjukkan bahwa aktivitas belajar di sekitar anak dapat berpengaruh terhadap sikap belajar anak. Lingkungan yang sering diisi dengan aktivitas belajar membawa anak-anak mau belajar. Jika aktivitas belajar dibiasakan di lingkungan mereka, boleh jadi mereka akan menjadi terbiasa belajar. Karena belajar sudah terbentuk secara biasa sejak kanak-kanak, saat dewasa, kebiasaan belajar diyakini tetap ada pada mereka. Bahkan, bukan mustahil belajar akan menjadi kebutuhan harian.

Banyaknya pengaruh buruk dari berbagai media yang akhir-akhir terus membludak, dengan demikian, tidak merisaukan orangtua. Karena anak-anak sudah memiliki benteng yang dibangun sejak dini untuk menghadangnya. Pengaruh buruk tetap berseliweran di sekitar anak-anak karena dampak dari globalisasi. Tetapi, benteng mereka tidak akan pernah jebol karena hantaman arus globalisasi itu.

Maka, mengondisikan lingkungan kanak-kanak dengan berbagai kegiatan belajar sangat dianjurkan. Konsekuensinya, orang yang lebih dewasa harus hadir di antara mereka. Menyediakan waktu khusus untuk mereka.
""