Selasa, 11 Maret 2014

FLS2N: Cipta Puisi SMP se-Kabupaten Kudus 2014





Saat pembukaan FLS2N Cipta Puisi, yang dihadiri unsur Disdikpora, Koordinator MGMP Bahasa Indonesia, dan Juri.
Untuk mengarah pada suasana lomba yang lebih kondusif, dalam lomba cipta puisi  pada Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) 2014 ini, kami sengaja menghadirkan juri yang sama sekali tidak memiliki kaitan dengan SMP. Mereka terdiri atas praktisi seni, pendidik (dari SMA), dan akademisi. Hal itu dimaksudkan agar di pascalomba, setelah pengumuman pemenang, tidak terdengar kasak-kusuk yang kurang mendidik. Pun kita tahu bahwa ajang lomba ini justru hendak membangun karakter generasi muda melalui seni sastra sebagai upaya edukatif. Oleh karena itu, peserta, guru pembimbing, atau sekolah harus siap untuk menjadi pemenang sekaligus yang kalah. Tidak ada pihak-pihak yang mencari kambing hitam.



Demikian pernyataan Koordinator Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia, Sutarman, S.Pd., di depan para peserta lomba cipta puisi dan guru-guru pembimbing yang memenuhi Ruang Serba Guna SMP 1 Mejobo, Kudus, Jawa Tengah (Jateng), Senin (10/3) saat pembukaan lomba.

Peserta sedang serius-seriusnya beraktivitas menulis puisi.

Dalam acara pembukaan itu hadir pula perwakilan dari Dinas pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kudus, Drs. Aswotono, M.Pd., yang sekaligus membuka acara Lomba Cipta Puisi ini. Dalam arahannya, Pengawas SMP ini, menegaskan bahwa seluruh peserta hendaklah siswa yang telah terpilih dari sekolah masing-masing. “Jangan sampai yang dikirim sebagai delegasi sekolah dalam ajang ini hanya cabakan, harus sudah terseleksi dan mereka sebagai pemenang di tingkat sekolah. Dengan demikian, pemenang dalam lomba hari ini sungguh ditemukan siswa berkualitas dalam cipta puisi. Sekaligus, ketika dikirim ke tingkat yang lebih tinggi, kita tetap memiliki keoptimisan,” katanya.


Lomba Cipta Puisi dikuti oleh 35 peserta, yang kebanyakan siswa putri, ini dimulai pukul 09.00 WIB, setelah secara resmi dibuka oleh Disdikpora Kabupaten Kudus dengan memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Untuk persiapan lomba, dewan juri, Yudi M.S. (praktisi seni, penyair), Kanzannudin (akademisi dari UMK), dan Catur Karya Agus P. (guru SMA), menyampaikan beberapa aturan yang harus ditaati oleh peserta. Di antaranya perihal pilihan tema.


Tema disedikan oleh dewan juri sebanyak 18 dalam kertas linthingan. Tema-tema itu mengacu pada 18 karakter dalam pendidikan, di antaranya, toleransi, gemar membaca, cinta tanah air, peduli lingkungan, menghargai prestasi, dan kerja keras. Untuk menentukan tema, juri meminta satu peserta memilih satu dari 18 tema yang disediakan untuk semua peserta. Ketika salah satu peserta memilih kertas linthingan, yang selanjutnya dibuka dan dibacakan oleh juri, terdengarlah tema pilihannya, “Cinta Tanah Air”.   



Tema itulah yang kemudian harus dikerjakan oleh peserta lomba. Terlihat raut wajah mereka ada yang ceria, ada yang tampak berpikir serius. Waktu dua jam disediakan oleh panitia untuk peserta menyelesaikan satu judul puisi sesuai tema tersebut. Dalam pelaksanaan, peserta terkarantina dalam ruang tertutup. Tidak boleh ada intervensi dari guru pembimbing. Pun peserta tidak diizinkan membawa tas dan piranti lainnya, kecuali penggaris, polpen, dan penghapus. Kertas disediakan oleh panitia. Tas dan sarana lainnya yang sudah terbawa masuk di ruang, harus dikeluarkan, dititipkan kepada guru-guru pembimbing.

Para juara, Almas Shabrina (juara 3) dan Diah Ayu Widyowati C.P. (juara 1), diapit  oleh guru pembimbing. Sedang Drivarosa Aisi A. (juara 2) sudah pulang terlebih dahulu.

Dalam ruang hanya ada dewan juri. Mereka menunggu selama dua jam, sesuai dengan jatah waktu yang disedikan untuk peserta mencipta puisi. Praktis selama dua jam di ruang tidak terdengar suara apa pun, kecuali bunyi esrek-esrek kertas yang ditulisi peserta. Peserta terlihat begitu serius, menatap dan merenung sebelum menuangkan renungannya itu di atas kertas. Peserta dapat membuat konsep dahulu di kertas yang juga disediakan oleh panitia. Semua membuat konsep dan setelah dipastikan konsep sebagai hasil yang maksimal, ditulislah hasil itu di kertas yang distempel oleh panitia yang nantinya dikumpulkan untuk dinilai dewan juri.


Kertas-kertas yang dipakai menulis puisi oleh peserta hanya boleh diberi identitas nomor peserta. Identitas yang lain tidak boleh diterakan, misalnya nama dan asal sekolah. Hal itu dimaksudkan agar juri lebih objektif. Tidak mengenal siapa nama dan asal sekolah peserta. Dengan begitu, hasil penjurian lebih dapat dipertanggungjawabkan.


Saat lomba berlangsung hadir petugas dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, Eneng Triastuti, yang didampingi oleh petugas dari Disdikpora Kabupaten Kudus, untuk mengadakan peninjauan pelaksanaan lomba. Monitoring dan evalusi (monev) ini dilakukan dengan maksud turun langsung melihat peserta lomba dan sekaligus memberi motivasi kepada peserta maupun guru-guru pembimbing sekaligus dinas pendidikan setempat. Memastikan bahwa kegiatan berlangsung dengan baik. “Monev dilakukan setiap ada kegiatan, termasuk kegiatan FLS2N ini. Petugasnya memang berbeda-beda. Untuk OSN ada petugas sendiri, untuk FLS2N SMP ada sendiri, SD juga ada sendiri,” demikian pengakuan Eneng Triastuti saat dikonfirmasi Coretan Sungkowoasrto.



Dua jam berakhir, seluruh hasil cipta peserta dikumpulkan oleh panitia dan kemudian dinilai oleh dewan juri di ruang tersendiri selama kurang lebih satu setengah jam. Di waktu menunggu pengumuman hasil pemenang, peserta  dan guru pembimbing ada yang setia menunggu, tetapi ada juga yang telah pulang terlebih dahulu. Untuk peserta disediakan konsumsi sehingga peserta dapat menikmati suguhan sederhana itu di saat-saat menunggu pengumuman.



Di akhir acara, saat pengumuman hasil pemenang, seluruh peserta dan guru-guru pembimbing yang masih setia menanti diminta memasuki ruang lomba yang sekaligus digunakan untuk tempat mengumumkan pemenang. Akan tetapi, sebelum pengumuman disampaikan, Yudi M.S., salah satu juri menyampaikan beberapa catatan. Pertama, juri terlalu sulit untuk menentukan pemenang karena hasil cipta puisi peserta ada dalam tataran rata-rata, tidak ada yang menonjol. Kedua, peserta masih kurang berani memilih diksi yang lebih menimbulkan daya khayal, yang artinya kata-kata yang digunakan peserta biasa-biasa saja, seperti orang sedang bercerita. Ketiga, ada beberapa puisi peserta yang terlalu luas cakupannya sehingga mengaburkan judul yang dipilih. Keempat, sebetulnya peringkat 1, 2, dan 3 tidak penting dalam cipta puisi seperti ini, yang terpenting adalah semangat untuk terus mau menulis jika memiliki impian untuk menjadi penyair.



Hasil Lomba Cipta Puisi FLS2N 2014 diumumkan oleh Catur Karya Agus P., juri yang lain, dengan komposisi sebagai berikut. Juara pertama, Diah Ayu  Widyowati C.P. (SMP 2 Bae); juara kedua, Drivarosa Aisi A. (SMP Nawakartika); juara ketiga, Almas Shabrina (SMP 1 Jati). Para pemenang berhak menerima piala (yang langsung diterimakan) dan piagam penghargaan (menyusul) dari Disdikpora Kabupaten Kudus. Selamat ya!
""