Kamis, 26 Mei 2016

Belajar Memimpin Diri Sendiri



Gambar diambil dari ink361.com
Saat apel pagi, pemimpin kami kecewa. Kekecewaannya diutarakan secara gamblang. Kami mengerti maksud yang diutarakannya. Tentu kami yang sudah hadir di tempat bekerja. Yang sudah duduk manis di kursi masing-masing. Berhadapan dengannya. Beberapa teman sekerja belum hadir. Dan, kebelumhadiran itu yang menjadi sumber kekecewaannya. Kesepakatan waktu hadir di tempat bekerja tak dipenuhi oleh semua pihak. Padahal, kehadirannya pagi-pagi (kali ini) berharap dapat berhadapan dengan semua teman sekerja.     

Kepada yang sudah hadir dikatakan bahwa hadir tepat waktu agar ditaati. Perkataan itu “menembak” beberapa teman sekerja yang baru saja hadir. Karena saat apel berlangsung, terlihat beberapa teman baru memasuki ruang. Disampaikan pula bahwa ia tak perlu marah (-marah) meski menemukan kenyataan yang mengecewakan. Dibandingkannya dirinya dengan beberapa pejabat yang sering marah kepada bawahannya yang tak disiplin. Tentu yang dimaksud marah adalah berkata-kata dengan nada tinggi dan keras. Selama ini memang belum pernah ada pejabat memarahi bawahannya dengan kekerasan fisik. Tentu tak ada yang berani melakukan. Sebab, berat risikonya.

Membandingkan cara pemimpin satu dengan lainnya kala menghadapi ketidakdisiplinan bawahan barangkali kurang perlu. Sebab, masing-masing pemimpin memiliki karakter yang berbeda. Pemimpin yang satu menghadapi ketidakdisiplinan bawahan dengan berbicara keras. Pemimpin yang lainnya mungkin dengan berkata-kata lembut. Pemimpin yang lainnya lagi barangkali dengan perilaku. Dan, bukan mustahil ada cara-cara yang lain.

Dengan cara apa pun pemimpin menghadapi persoalan anak buah sah-sah saja. Toh ada batas-batas tertentu yang ditaatinya sendiri. Tidak mungkin ia menerapkan cara sampai keluar batas dari yang harus ditaatinya. Berat taruhannya. Karena dapat diabaikan anak buah. Bisa dicopot dari jabatan. Atau bahkan diseret ke meja hijau. Cara yang diterapkan dapat efektif jika mengandung kewibawaan. Pemimpin yang sering telat bekerja hendak menasihati anak buah yang terlambat datang, jelas tak mengandung kewibawaan. Pemimpin yang marah, bahkan menggebrak meja sekalipun, di hadapan anak buahnya yang sering terlambat, tetap memiliki kewibawaan asalkan ia disiplin dalam waktu. Dipastikan, anak buah yang sadar, akan mengubah kebiasaannya. Karena pemimpin yang konsekuen disegani anak buah.

Kuncinya sebenarnya harus dapat memimpin diri sendiri dulu. Membudayakan hadir lebih awal di tempat bekerja. Menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan jadwal yang dibuat. Memberikan hak anak buah sesuai dengan haknya. Menerima hak sesuai dengan hak yang harus diterimanya. Melakukan kewajiban sesuai dengan kewajibannya. Menaati kesepakatan bersama. Dan lain sebagainya, termasuk menata pembicaraan, pemikiran, dan perilaku yang meningkatkan kualitas hidup.
Ini sebenarnya tidak hanya berlaku untuk pemimpin kami dan pemimpin-pemimpin lain. Tapi juga untuk saya dan Anda. Sebab, saya dan Anda di bagian yang lain mungkin berperan sebagai pemimpin. Menjadi kepala keluarga, ibu dalam keluarga, kakak dari adik, om/tante dari keponakan, ketua/pemimpin kategorial tertentu, dan paling tidak menjadi pemimpin diri sendiri.
Berhasil memimpin diri sendiri menjadi investasi (sangat berharga) dalam memimpin anak buah. Karena tanpa memarahi, tanpa menegur, bahkan tanpa melihat  keburukan anak buah sekalipun, tetap menjadi pemimpin yang berpengaruh. Pemimpin yang menginspirasi dapat memengaruhi anak buah meninggalkan jauh-jauh keburukannya. Sayang, potensi tersebut belum ada pada diri saya sekalipun hanya untuk memimpin diri sendiri. Saya harus terus belajar.
""