Senin, 03 Agustus 2015

Out Door Activity Tradisi Belajar yang Mengasyikkan



           
Mendengarkan penjelasan pengelola pembiakan ulat sutera.

            Banyak pengetahuan penting tak bisa dihadirkan di ruang kelas. Padahal, penting bagi pertumbuhan wawasan anak-anak. Karenanya, SMP 1 Jati, Kudus, sejak belasan tahun lalu meluncurkan program belajar di luar ruang, out door activity. Hingga saat ini program itu tetap eksis.
            Out door activity diadakan setahun sekali setiap libur kenaikan kelas. Yang mengikuti anak-anak kelas VII dan VIII, yang baru naik ke kelas VIII dan IX. Tidak hanya objek yang berada di Kudus yang dikunjungi, tetapi juga di luar Kudus, di antaranya Pati, Jepara, Rembang, dan Blora. Objek-objek tersebut misalnya, perkebunan dan pengolahan karet, tempat pelelangan dan budidaya ikan, perkebunan kelapa dan produksinya, peternakan lebah dan produksi madu, dan pengembangbiakan ulat sutera dan pemintalan benang sutera. 

            Yang masih tergolong anyar adalah mengunjungi lokasi pengembangbiakan ulat sutera dan pemintalan benang sutera alam di Regaloh, Pati. Pengembangbiakan ulat sutera tersebut satu lokasi dengan Bumi Perkemahan Regaloh, Tlogowungu, Pati. Lokasi perkemahan berada di sisi timur, sementara pengembangbiakan ulat sutera berada di sisi barat menyatu dengan perkebunan murbei seluas 327 hektare.
Asyik mencermati proses pemintalan benang sutera

            Memasuki lokasi pengembangbiakan, kami, anak-anak dan para guru pendamping, langsung dikenalkan pada proses pengembangbiakan ulat sutera oleh pengelola. Awalnya, kami diajak menuju ke sebuah bangunan yang kesterilannya dijaga. Di dalamnya ada inkubator, tempat telur sampai menetasnya menjadi ulat kecil. Setelah 15 hari, dipindahkan ke bangunan lain untuk menghasilkan kepompong (kokon). Kami diajak ke bangunan itu dan memasukinya. Di dalamnya, kami jumpai rak-rak berjajar berisi potongan ranting pohon murbei yang masih berdaun dipenuhi kepompong.  Pemandangan yang  mengejutkan kami. Kami tahu akhirnya bahwa dari ulat kecil sampai menjadi kepompong memerlukan waktu 28 hari.
            “Sangat mengasyikkan mengetahui proses alam pada ulat sutera. Ilmuku bertambah. Ulat-ulatnya lucu tak menjijikkan, apalagi yang sudah jadi kepompong, menarik sekali,” kata Efka Tsabita Imania, salah seorang siswa kami yang mengikuti kegiatan itu, saat ditanya mengenai pengalaman yang diperolehnya. 

            Untuk melengkapi pengetahuan, kami diajak mengunjungi tempat pemintalan sutera alam yang lokasinya kurang lebih satu kilometer dari pengembangbiakan ulat sutera tersebut. Di lokasi itu, kami melihat proses pemintalan benang sutera. Pekerja, baik laki-laki maupun wanita, mengolah kepompong  sampai menjadi benang, yang sudah digulung dan siap dijual.

            Bagi Dra. Ratna Ambar W., penggagas out door activity di SMP 1 Jati, Kudus, sejak 1998, kegiatan pembelajaran ini paling disukai anak. Karena pengalaman langsung ini tak pernah mereka peroleh di ruang kelas. Kegiatan ini selalu dirindukan. Karenanya, banyak anak mengusulkan tak hanya sekali setahun dilakukan, tetapi dua tiga kali. Makanya, kegiatan ini telah menjadi tradisi tahunan. “Kegiatan ini pendanannya dari dana BOS, namun perlu adanya penyempurnaan anggaran untuk penyuksesannya,” katanya.
            Sekalipun demikian, semangat kegiatan ini tetap berjalan. Seperti yang terbaru, Kamis (11/6), out door activity diadakan di pembibitan jamur tiram, penggilingan tebu, dan pembuatan gula merah yang berlokasi di Kecamatan Jekulo, Kudus.
""