Minggu, 23 Agustus 2015

Gelar Budaya Lintas Iman 2015 Kudus, Menghargai Kemajemukan




Drama Sang Budha

            Di Indonesia bertumbuh kemajemukan. Dari agama, budaya, adat, ras, sampai suku yang berbeda berkembang dari waktu ke waktu. Baik di perkotaan maupun di pedesaan, perkembangan kemajemukan tersebut mudah ditemukan. Dan, Indonesia beruntung sebab kekayaan semacam itu tidak dimiliki oleh setiap bangsa. Apalagi kekayaan yang berupa kemajemukan jika dipadukan saling memperlengkapi akan melahirkan kekuatan yang tak tertandingi.
            Salah satu bentuk kegiatan memadukan kemajemukan dilakukan pada MInggu (23/8) di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah (Jateng). Kegiatan yang dikemas dalam bentuk Gelar Budaya Lintas Iman 2015 itu dilaksanakan di Balai Budaya Rejosari, Dukuh Wanasari, Desa Rejosari, Kecamatan Dawe, Kudus, Jateng. Acara dimulai pukul 09.30 s.d. 22.00 WIB. Pada malam harinya akan diadakan pertunjukan wayang potehi dan kulit. Kegiatan ini digagas oleh Paroki Santo Yohanes Evangelista, Kudus, Jateng, dalam rangka memperingati HUT ke-70 Proklamasi Kemerdekaan RI.
Rebana dari STAIN Kudus
            Dalam gelar budaya tersebut ditampilkan berbagai seni budaya yang berasal dari berbagai latar belakang, baik  agama, budaya, suku, kepercayaan, maupun daerah. Di antaranya, Seni barongsai dari Pati; Tari Prajurit; Perarakan Bendera Merah Putih; Kesenian Rebana dari Pesantren Bangsri, Jepara; Sendratari Hindu dari Jepara; Sendratari Budha dari Kudus; Kesenian Sedulur Sikep, Sukolilo, Pati; Orasi Budaya; Kesenian Rebana dari STAIN Kudus; Pertunjukan Wushu dari Kudus; Tari Tengger; Tari Jaran Eblek dari Gubug, Grobogan; Tembang Dolanan dari Juwana; Tari Ledek dari Purwodadi; Tari Manipuri dan Pesisiran dari Jepara; dan Musik Keroncong Anak-anak dari Kudus.

Seni Barong dari Purwodadi
            Sekalipun masing-masing peserta pengisi acara berangkat dari latar belakang yang berbeda, tetapi materi pertunjukan mereka lebih menonjolkan nilai-nila kehidupan secara umum. Tidak menonjolkan keberadaannya sebagai komunitas ekslusif. Sehingga setiap pertunjukan saling memperlengkapi dan menguatkan tentang nilai-nilai universal yang patut dijunjung tinggi secara bersama-sama dalam hidup berdampingan.  
            Melalui itu, masyarakat yang hadir menikmati pertunjukan memiliki kesadaran bahwa keberagaman menjadi indah jika dipadukan dan saling memperlengkapi. Masyarakat yang hadir menikmati, satu dengan yang lain, dapat berbaur. Di sinilah komunkasi lintas budaya, agama, golongan, dan sejenisnya terbangun. Semoga kebersamaan yang diwujudkan dalam gelar budaya lintas iman 2015 ini dapat menjadi semangat yang terus berkobar menghargai kemajemukan.
""