Selasa, 12 Mei 2015

Jangan Pesimis, Masih Ada Ruang Belajar



Anak-anak yang tidak lolos dalam Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2015, tentu perasaannya kurang nyaman. Karena harapannya untuk dapat diterima di PTN dengan berpedoman pada nilai rapor pupus. Sekalipun, untuk menjadi mahasiswa di PTN tidak hanya melalui SNMPTN. Ada jalur lain yang masih dapat ditempuh manakala gagal dalam SNMPTN. Setelah gagal di SNMPTN, berikutnya masih dapat menempuh jalaur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN), dan kalaupun gagal lagi masih dapat melalui Ujian Mandiri (UM) PTN.



Betapa pun, jalur SNMPTN lebih ringan. Karena cukup berpedoman pada nilai rapor. Calon mahasiswa hanya mengirimkan nilai rapor dan itu pun umumnya yang mengelola sekolah asal. Itu artinya, siswa (calon mahasiswa) tidak repot-repot mengurus sana-sini. Ketika pengurusan nilai rapor, siswa masih dapat belajar secara efektif. Tidak ada waktu belajar di sekolah yang dikorbankan.  Di samping itu, kuota di jalur ini lebih banyak ketimbang jalur berikutnya. Sayang, dari tahun ke tahun kuota itu ada penurunan karena dampak dari sikap anak yang sudah diterima lewat SNMPTN mengundurkan diri alias tidak daftar ulang. Kuota tahun berikutnya untuk sekolah asal anak tersebut dikurangi.       


Anak-anak yang dapat terjaring lewat SNMPTN tidak perlu repot-repot lagi berpikir mencari PTN. Tinggal menunggu hasil kelulusan, yang pertengahan bulan ini diumumkan. Jika dalam pengumuman kelulusan, lulus, maka tinggal mendaftar ulang saja di PTN ia diterima. Tetapi jika dalam pengumuman kelulusan, belum lulus, maka ia gugur diterima di SNMPTN tersebut.


Untuk yang disebut terakhir, menghadapi kenyataan yang tentu berat. Karena ia harus mengikuti ujian lagi di tahun pelajaran mendatang. Pendidikan yang dijalaninya berarti mundur satu tahun lagi. Kemungkinan timbul rasa malu juga. Sebab di sekolah, ia akan menjadi perhatian bahkan bahan perbincangan sekalipun hanya di waktu-waktu awal. Setelah beberapa hari/minggu Keadaan akan berbeda. Artinya, ia tidak lagi menjadi pokok pembicaraan atau rasan-rasan.



Karenanya, semangat menatap masa depan harus tetap tajam. Tidak meredup. Optmisme harus tetap menyala di kalbu. Sebab, kegagalan tidak lantas menjadi kutuk yang mematikan. Karena sebenarnya masih ada ruang belajar yang tersedia.   

Pun demikian bagi anak-anak yang gagal di SNMPTN, ruang-ruang belajar masih tersedia bagi mereka. Bukankah seperti disinggung di atas masih ada dua jalur lagi yang dapat ditempuh untuk menjadi mahasiswa di PTN? Gagal melalui jalur SBMPTN, selanjutnya masih dapat turut di UM. Akan tetapi, kalau sudah melalui beberapa jalur itu masih tetap belum berhasil, masih ada banyak PT swasta  (PTS) yang siap menjadi ruang belajar.


Ada banyak PTS yang mutunya tidak kalah dengan PTN. Di beberapa PTS ada fakultas atau jurusan yang kualitasnya sama dengan fakultas atau jurusan di PTN. Bahkan boleh jadi, ada fakultas atau jurusan di PTS yang mutunya melebihi fakultas atau jurusan yang sama di PTN. Hanya, lazimnya biaya yang harus ditanggung lebih mahal di PTS ketimbang di PTN.  



Masyarakat sebagai ruang belajar

Hal itu menunjukkan bahwa anak-anak yang berasal dari keluarga mampu, tetap akan dapat tertampung di PT, termasuk di PTS yang mahal sekalipun. Karena meski anggaran mahal, mereka masih dapat membayar. Hal yang tentu berbeda dengan anak-anak dari keluarga kurang mampu. Kebanyakan mereka mengurungkan masuk di PTS karena biaya mahal.



Padahal belajar tak harus biaya mahal jika yang dimaksud biaya mahal itu, uang. Karena belajar dapat dilakukan di mana-mana, tidak harus di lembaga formal. Sekolah-sekolah alam yang dibentuk insan-insan peduli pendidikan merupakan salah satu ruang belajar yang tidak menuntut banyak uang. Para pendiri dan pengelola berkomitmen berbagi ilmu kepada siapa saja yang memerlukan tanpa memandang latar belakang siswa. Maka tak jarang yang masuk ke sekolah-sekolah itu kalangan kurang mampu.


Itu sebabnya sekolah-sekolah alam banyak ada di lokasi yang  jauh dari kemakmuran. Sekolah alam ada di pinggiran-pinggiran kota, tempat-tempat kumuh, di pelosok desa yang jauh dari akses pendidikan, di daerah-daerah pedalaman, dan sejenisnya. Orang-orang yang menjadi pembimbing sebagai sukarelawan. Mereka tidak digaji. Kalau pun ada, mungkin mereka dapat imbalan apa yang dihasilkan oleh orangtua siswa di lokasi itu. Yang di pedalaman, mereka mungkin mendapat ikan, ketela, pisang, atau yang lainnya.


Tidak jauh-jauh seperti yang diuraikan di atas, belajar sejatinya dapat juga diperoleh dari masyarakat tempat anak berada. Anak-anak dapat belajar dari lingkungan tempat tinggal mereka. Yang hidup di tengah-tengah masyarakat industri, mereka dapat belajar tentang industri. Yang berada di lingkungan tambak, dapat belajar bertani tambak dan belajar hal lain yang masih dapat dikaitkan dengan hasil tambak. Demikian juga yang hidup di daerah pertanian, mereka dapat belajar bertani dan kemungkinan pengembangannya.



Ruang belajar banyak tersedia di masyarakat. Anda tinggal pilih yang mana. Tentu pilih yang terbaik dari banyak pilihan yang tersedia di masyarakat. Sebab, ruang-ruang belajar itu senantiasa bersebelahan dengan ruang-ruang lain yang tidak patut sebagai ruang belajar. Bahkan keberadaannya sangat memungkinkan mengganggu seseorang yang sedang belajar secara alam.



Jika seseorang itu mampu bertahan, tidak terganggu oleh pengaruh jahat yang ada di sekitarnya, dan tetap terus teguh belajar, keberhasilan sebagai keniscayaan. Maka, tidak sedikit orang sukses sekalipun pendidikan formalnya rendah. Sukses karena menekuni secara ulet terhadap apa yang dia bisa. Perihal jatuh-bangun itu hal yang biasa bagi orang sukses. Karenanya, jangan pesismis jika hari ini Anda belum dapat meraih harapan Anda. Harapan itu mungkin ada di waktu dan ruang lain.
""