Kamis, 07 Januari 2016

Kios



Di sebuah pojok jalan, ada kios. Dari pandangan depan, kios itu terlihat kecil. Dan, memang benar yang namanya kios tentu kecil. Kalau besar namanya bukan kios, melainkan toko. Tetapi, kios yang saya gambarkan ini agak berbeda dengan kios-kios lain yang berderat memanjang di sebelah kanannya. Jika kios-kios tersebut buka dari pagi hingga petang, atau paling lambat pukul 20.00 WIB, kios yang saya gambarkan ini buka dari pagi sampai dengan pagi lagi alias tidak pernah tutup.

Barangkali lokasinya di paling pojok itu, yang salah satunya, menyebabkan buka sepanjang waktu. Karena, lokasi itu tidak pernah sepi dari orang sekalipun tengah malam. Bus-bus antarkota dan antarprovinsi sering menurunkan penumpang di sekitar lokasi itu. Orang-orang yang lelah sehabis perjalanan panjang, yang mungkin masih menunggu jemputan atau becak atau angkutan, lazimnya mampir dulu di kios itu. Sekadar membeli segelas kopi atau teh hangat atau sebungkus rokok. Sehabis melepas lelah sesaat, mereka meninggalkan kios, naik becak atau angkutan atau kendaraan jemputan, pulang atau entah ke mana.

Akan tetapi, kios itu tak kehilangan pengunjung. Karena sepeninggal mereka, dalam hitungan detik sudah ada orang lain sebagai pengganti. Mereka tidak semuanya penumpang bus. Ada tukang becak yang memang mangkal di area itu untuk menunggu penumpang. Di samping itu, ada juga buruh-buruh pabrik karena kebetulan letak pabrik tak jauh dari kios itu. Buruh-buruh pabrik yang shif malam yang banyak berkunjung. Dan, barangkali malahan ini yang menyebabkan kios itu buka hingga pagi lagi.

Dugaan saya benar. Sebab kata tukang becak yang mangkal di situ, pengunjung kios tersering adalah buruh pabrik. Yaitu buruh pabrik es yang malam-malam membutuhkan penghangat tubuh. Dinginnya balok-balok es mengigilkan tubuh mereka. Kopi atau teh hangat, memulihkannya. Sesekali buruh-buruh pabrik kertas yang bersebelahan dengan pabrik es datang juga memesan es teh atau sirup. Pun keluarga pasien rawat inap di rumah sakit yang berada di seberang jalan. Karena jika malam, warung-warung di sepanjang tepi jalan depan rumah sakit banyak yang tutup. Kios di pojok jalan itu menjadi salah satu alternatif.

Maka, pemilik kios yang setahu saya terdiri atas dua orang, isteri-suami, terlihat sibuk. Jika siang, sang isteri yang lebih sering sibuk. Melayani pengunjung. Saya sering melihatnya. Sebab, jalan depan kios adalah jalan yang sehari-hari saya lewati saat pergi dan pulang bekerja. Jadi, kesibukan yang terjadi di kios itu, saya dapat merekamnya.

Sang isteri yang lebih sering sibuk di siang ketimbang malam barangkali bagian dari menaati norma masyarakat. Masyarakat masih belum dapat menerima kaum perempuan bekerja malam-malam. Apalagi saat malam, pelanggan yang datang ke kios nyaris semuanya kaum lelaki. Jika kaum perempuan yang melayani, sekalipun hanya membuatkan kopi, teh, atau mi, tetap dipandang minir oleh masyarakat. Oleh karena itu, sang isteri sibuk di kios paling jauh sampai pukul 21.00 WIB. Selebihnya sang suami yang sibuk melayani pelanggan hingga pagi.

Pun udara malam lebih jahat ketimbang udara siang. Ketahanan tubuh perempuan yang rata-rata lebih kuat tubuh lelaki memang kurang sesuai jika bersentuhan dengan udara malam. Perempuan rentan terhadap udara malam. Kulit perempuan yang lebih halus (barangkali juga tipis) ketimbang lelaki mudah tertembus udara malam yang jahat. Kelembapan udara malam mudah membuatnya masuk angin. Sekalipun kios tertutup, dua pintu kanan dan kiri serta ventilasi selebar lubang jendela memanjang di antara kedua pintu yang terbuka menganga, membuat angin leluasa menerobos ke dalam. Udara lembap menerpa siapa pun yang berada dalam kios.

Namun, saya kira ruang dalam kios tak hanya satu, yaitu ruang yang digunakan untuk berjualan. Ada ruang lain. Sebab, saya dan tentu semua pelanggan, melihat di bagian dinding dalam ada pintu untuk keluar masuk pemilik kios. Sementara jika dilihat dari luar, dinding bagian belakang tidak terlihat ada pintu tembus. Dinding tembok luar bagian belakang buntu. Ruang lain itu, bukan mustahil untuk ruang istirahat alias ruang tidur.

Suara televisi yang kadang terdengar sampai ke telinga pengunjung, semakin menguatkan dugaan bahwa ruang lain itu adalah ruang istirahat. Sang isteri yang sekalipun tidak terlihat di hadapan pelanggan saat malam, bisa saja istirahat di ruang itu. Tidur nyaman di ruang dalam. Ruang khusus, yang tak boleh diakses oleh pengunjung.  Jadi, jika sang suami selalu terlihat sumringah sekalipun sibuk melayani pembeli, tidaklah mengherankan. Sebab, isteri yang tidur di ruang dalam tetap menyeruakkan energi spiritual kepadanya.

Penataan ruang dalam yang dapat digunakan untuk ruang tidur diperlukan kearsitekturan. Sebab, dilihat dari dinding samping bangunan kios yang berbatasan dengan trotoar jalan protokol, jalan yang dilewati bus dan kendaraan lain antarkota dan antarprovinsi, di bawahnya ada sungai. Sungai itu “hidup”, bergantung pada musim. Jika musim kemarau, sungai kering. Jika musim penghujan, sungai penuh air.

Akan tetapi, sungai yang berada di bawah bangunan beberapa kios itu, dapat saja dimanfaatkan untuk beraksi. Pemilik kios bisa saja memanfaatkannya untuk membuang “sampah biologis” saat sungai dialiri air. Yaitu, buang air kecil atau, bahkan air besar.  Saat musim hujan, sungai penuh air, tentu sampah-samah itu mudah hanyut oleh arus air. Jika prakiraan ini benar, tentu di ruang dalam kios di pojok jalan itu, pun di kios-kios lain, dibuatkan tempat seadanya untuk BAK dan BAB. Hanya, pemanfaatannya mungkin terbatas, yakni untuk pemilik kios. Dan juga, di saat musim panas, tempat itu untuk sementara mungkin ditutup.

Tentu akan berbeda keadaannya jika kios-kios, terutama kios di pojok jalan karena buka sepanjang waktu, dibuatkan toilet tersendiri. BAK dan BAB dapat dilakukan di tempat semestinya. Baik saat musim penghujan maupun kemarau dapat membuang sampah biologis secara nyaman. Dengan begitu, keadaan sungai, baik di saat penghujan maupun kemarau, tidak menjijikkan.

Saya pikir, pemilik kios memanfaatkan toilet karena kios-kios mereka yang berderet dari timur ke barat itu kebanyakan menawarkan makanan. Citra bau dan rasa yang menggairahkan niscaya tetap dijaga dengan baik. Karena, mereka tidak mau kehilangan pelanggan gara-gara lingkungan tidak mendukung.     

Tentu bukan karena membiarkan sungai di bawah kios apa adanya, yang mendorong orang melakukan aksi kejahatan. Aksi kejahatan dapat terjadi di mana dan kapan saja. Terkait aksi kejahatan itu, saya pernah diceritai oleh Mas Tukang Parkir kendaraan pengunjung kios. Pada suatu ketika, entah kapan tepatnya, ada orang yang melakukan pencurian di salah satu kios yang menderet di area itu. Tentu tidak di kios yang ada di pojok jalan. Sebab, kios itu tak pernah tidur, pelanggan silih berganti datang dan pemilik, sang suami, senantiasa melayani. Kios yang dibobol pencuri adalah kios yang paling ujung barat. Yang letaknya memang paling jauh dari kios di pojok jalan yang selalu ramai, yang saya gambarkan ini. Selidik punya selidik, kata Mas Tukang Parkir, pencuri itu memasuki kios sasarannya melalui sungai di bawah kios.
""